Listrik sudah menjadi bagian dari keseharian manusia, mulai dari lampu, kipas, televisi, hingga gawai yang digunakan di rumah. Namun, di balik manfaatnya, listrik juga memiliki risiko apabila digunakan tanpa pemahaman dasar. Karena itu, edukasi sejak dini tentang listrik menjadi penting, terutama terkait keselamatan dan kebiasaan hemat energi.
Melalui program kerja monodisiplin, Tabina Nur Rawnie (Teknik Elektro, Universitas Diponegoro) dibantu oleh rekan-rekan TIM 140 KKN UNDIP, melaksanakan Sosialisasi Kelistrikan untuk Siswa SD Negeri 3 Mlokowetan sebagai upaya memperkenalkan konsep dasar listrik dengan cara yang mudah dipahami dan menyenangkan. Kegiatan ini bertujuan membantu siswa mengenal listrik bukan hanya sebagai sesuatu yang “menyalakan alat”, tetapi juga sebagai energi yang harus digunakan dengan aman dan bijak.
Sosialisasi diawali dengan video pendek dengan inti vieonya berisikan dampak dari boros listrik untuk menarik perhatian siswa. Dari video tersebut, anak-anak diajak berdiskusi sederhana seperti ”Apa saja yang menjadi sulit ketika listrik mati?” ”Boleh tidak kalau tetap menyalakan peralatan listrik walaupun sudah tidak digunakan?” Metode tanya jawab ini membantu siswa mengaitkan materi dengan pengalaman sehari-hari, sehingga lebih mudah dipahami oleh siswa dari berbagai tingkat kelas (kelas 1 hingga kelas 6). Setelah itu, siswa diperkenalkan pada materi inti yaitu, apa itu listrik, contoh penggunaannya di rumah dan sekolah, serta gambaran umum mengenai sumber listrik. Materi disampaikan dengan bahasa yang ringan dan contoh yang dekat dengan aktivitas anak-anak, agar tetap relevan dan tidak terasa berat.
Bagian penting dari kegiatan ini adalah edukasi keselamatan listrik. Siswa diajak memahami aturan sederhana yang mudah diingat, seperti:
Selain itu, siswa juga mendapat pemahaman tentang petir sebagai listrik besar di langit serta langkah aman saat hujan, seperti menghindari berteduh di bawah pohon dan mengurangi aktivitas berisiko.
Untuk membuat suasana tetap seru dan semua siswa bisa terlibat, kegiatan diselingi permainan interaktif seperti “boleh/tidak boleh” dan gerakan “aman atau berbahaya”. Aktivitas ini membantu siswa memahami pesan keselamatan tanpa merasa digurui, sekaligus membuat materi lebih melekat.
Di akhir sesi, siswa diajak menjadi “Pahlawan Listrik Cilik” dengan melakukan kebiasaan hemat energi yang sederhana seperti mematikan lampu saat tidak digunakan, mencabut charger jika tidak dipakai, dan menggunakan listrik seperlunya. Harapannya, kebiasaan baik ini bisa diterapkan di rumah dan sekolah secara berkelanjutan. Kegiatan sosialisasi ini menjadi langkah kecil namun penting untuk membangun generasi yang lebih sadar energi: Paham manfaat listrik, tahu cara aman, dan terbiasa hemat.